JAKARTA -- Sekretaris Jenderal BSMI Muhammad Rudi menghadiri secara langsung Pertemuan Koordinasi Penguatan Ketahanan Kesehatan Dalam Rangka Persiapan Hari Relawan Internasional di Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Jakarta, Selasa (15/11/2022).
Dalam pertemuan tersebut, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes akan meluncurkan program Tenaga Cadangan Kesehatan yang siap siaga saat dibutuhkan saat terjadi krisis kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Rudi menyambut baik rencana peluncurkan program Tenaga Cadangan Kesehatan dan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) siap mendukung menjadi bagian dari tenaga cadangan kesehatan yang diinisiasi Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes.
"Ini program yang patut diapresiasi karena mengumpulkan berbagai potensi dari tenaga kesehatan dan non tenaga kesehatan yang siap dimobilisasi pada saat terjadi krisis kesehatan. Lewat satu payung yang sama dan terkoordinasi, semua potensi bisa cepat untuk merespons setiap terjadi krisis kesehatan dalam berbagai skala," ujar Rudi.
Rudi mengungkapkan, Relawan BSMI seluruh Indonesia siap bergabung menjadi tenaga cadangan kesehatan dan bersinergi dengan seluruh elemen untuk membantu masyarakat jika terjadi krisis kesehatan.
"Kami juga dalam proses mendata seluruh potensi relawan baik dari tenaga medis maupun nonmedis karena semua potensi dibutuhkan seperti yang baru saja disampaikan Puskris Kemenkes. InsyaAllah BSMI siap bergabung dalam tenaga cadangan kesehatan," ujar Rudi.
Plt Kepala Pusat Krisis Kesehatan Dr. Sumarjaya mengatakan, ketahanan kesehatan adalah pilar penting yang sangat dibutuhkan saat terjadi krisis kesehatan. Jika terjadi peningkatan eskalasi, maka dibutuhkan mobilisasi dan sumber daya yang besar.
"Peningkatan eskalasi ini bisa terjadi dalam bencana alam maupun bencana nonalam ataupun terjadi kerusuhan sosial sehingga semua potensi sangat dibutuhkan," papar Jaya.
Jaya menambahkan, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes tidak bisa berjalan sendirian dalam menghadapi krisis ketahanan kesehatan. "Maka diutuhkan sinergi Pemerintah, relawan dan komunitas termasuk organisasi profesi bersama-sama melakukan ini. Kita butuh kesiapsiagaan dan kecepatan dan diwujudkan dalam tenaga cadangan kesehatan," papar Jaya.
Peluncuran Tenaga Cadangan Kesehatan ini juga akan bersamaan dengan momentum Hari Relawan Internasional sehingga ada kesamaan momentum untuk bangkit dalam menguatkan sistem ketahanan kesehatan.
"Semua potensi tenaga cadangan kesehatan akan disatukan dan didata dalam satu aplikasi dengan kesiapan masing-masing individu sehingga nanti mudah untuk mobilisasi," ungkap Jaya.
Dalam pertemuan tersebut, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes akan meluncurkan program Tenaga Cadangan Kesehatan yang siap siaga saat dibutuhkan saat terjadi krisis kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Rudi menyambut baik rencana peluncurkan program Tenaga Cadangan Kesehatan dan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) siap mendukung menjadi bagian dari tenaga cadangan kesehatan yang diinisiasi Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes.
"Ini program yang patut diapresiasi karena mengumpulkan berbagai potensi dari tenaga kesehatan dan non tenaga kesehatan yang siap dimobilisasi pada saat terjadi krisis kesehatan. Lewat satu payung yang sama dan terkoordinasi, semua potensi bisa cepat untuk merespons setiap terjadi krisis kesehatan dalam berbagai skala," ujar Rudi.
Rudi mengungkapkan, Relawan BSMI seluruh Indonesia siap bergabung menjadi tenaga cadangan kesehatan dan bersinergi dengan seluruh elemen untuk membantu masyarakat jika terjadi krisis kesehatan.
"Kami juga dalam proses mendata seluruh potensi relawan baik dari tenaga medis maupun nonmedis karena semua potensi dibutuhkan seperti yang baru saja disampaikan Puskris Kemenkes. InsyaAllah BSMI siap bergabung dalam tenaga cadangan kesehatan," ujar Rudi.
Plt Kepala Pusat Krisis Kesehatan Dr. Sumarjaya mengatakan, ketahanan kesehatan adalah pilar penting yang sangat dibutuhkan saat terjadi krisis kesehatan. Jika terjadi peningkatan eskalasi, maka dibutuhkan mobilisasi dan sumber daya yang besar.
"Peningkatan eskalasi ini bisa terjadi dalam bencana alam maupun bencana nonalam ataupun terjadi kerusuhan sosial sehingga semua potensi sangat dibutuhkan," papar Jaya.
Jaya menambahkan, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes tidak bisa berjalan sendirian dalam menghadapi krisis ketahanan kesehatan. "Maka diutuhkan sinergi Pemerintah, relawan dan komunitas termasuk organisasi profesi bersama-sama melakukan ini. Kita butuh kesiapsiagaan dan kecepatan dan diwujudkan dalam tenaga cadangan kesehatan," papar Jaya.
Peluncuran Tenaga Cadangan Kesehatan ini juga akan bersamaan dengan momentum Hari Relawan Internasional sehingga ada kesamaan momentum untuk bangkit dalam menguatkan sistem ketahanan kesehatan.
"Semua potensi tenaga cadangan kesehatan akan disatukan dan didata dalam satu aplikasi dengan kesiapan masing-masing individu sehingga nanti mudah untuk mobilisasi," ungkap Jaya.
