Kembali ke blog
bsmi / 2 Maret 2026 Palestina

Dalia Rahmi: Ketika Seorang Anak Perempuan Gaza Menjadi Tiang Terakhir Keluarganya

Dalia Rahmi: Ketika Seorang Anak Perempuan Gaza Menjadi Tiang Terakhir Keluarganya

Oleh Annas (Kontributor BSMI dari Gaza)



Di Gaza, perang bukan hanya meruntuhkan bangunan. Ia juga meruntuhkan keluarga.



Namun di antara puing-puing yang berserakan dan suara ledakan yang tak kunjung usai, ada cerita tentang seorang gadis 22 tahun yang memilih berdiri, ketika hidup memaksanya menjadi dewasa dalam satu pagi.



Namanya Dalia Rahmi.



Sebelum perang, hidup Dalia nyaris seperti mahasiswa pada umumnya. Ia kuliah di Fakultas Farmasi, punya satu tahun lagi menuju kelulusan. Ayahnya, Osama (43), bekerja keras agar semua anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ibunya, Faten (37), menjaga rumah dengan penuh kehangatan. Kakak laki-lakinya sedang menempuh studi di Mesir. Mereka bukan keluarga kaya, tetapi cukup. Cukup bahagia. Cukup utuh.



Semua berubah pada 7 Oktober 2023.



Pagi yang Menghapus Segalanya



Rumah mereka berada di wilayah perbatasan wilayah yang pertama kali merasakan dentuman perang. Ledakan menjadi suara latar sehari-hari. Ayahnya sempat mempertimbangkan untuk mengungsi ke selatan, tetapi ia tak mengenal siapa pun di sana. Dengan enam anggota keluarga, berpindah bukan perkara sederhana.



Ia memilih bertahan.



Tanggal 4 November 2023, pagi itu dimulai seperti biasa. Osama membangunkan keluarganya untuk salat Subuh berjamaah. Setelahnya, Faten menyiapkan sarapan. Tidak ada yang tahu, itu adalah meja makan terakhir yang mempertemukan mereka sebagai keluarga lengkap.



Sekitar pukul 10 pagi, sebuah roket menghantam kamar orang tua Dalia.



Ledakan itu begitu cepat. Begitu brutal.



Dalia dan adiknya, Dima (17), yang berada di kamar lain, berteriak memanggil ayah dan ibu mereka. Tak ada jawaban. Dinding runtuh. Debu menutup pandangan. Di luar rumah, dua adiknya, Abdurrahman (14) dan Yusuf (12), berlari pulang dari toko sayur.



“Di mana Ayah dan Ibu?” tanya mereka.



“Di kamar,” jawab Dalia.



Ketika ia kembali masuk, kamar itu sudah tidak ada. Benar-benar hilang. Seolah dipotong dari bangunan. Di situlah Dalia mengerti: ia kehilangan keduanya dalam satu waktu.



Tak ada pelukan perpisahan. Tak ada kesempatan terakhir.



Ia bahkan tak sempat menangis lama. Yang ada di pikirannya hanya satu: bagaimana mengeluarkan jasad orang tuanya dari bawah reruntuhan?



Dari Mahasiswi Menjadi Penopang Keluarga



Dalam hitungan jam, hidup Dalia berbalik arah. Dari mahasiswa tingkat akhir menjadi kepala keluarga bagi tiga adiknya.



Ia membawa mereka ke rumah seorang teman ayahnya. Dua hari kemudian, setelah para tetangga berhasil mengevakuasi dan memakamkan kedua orang tuanya, perjalanan panjang mereka dimulai.



Mereka berjalan kaki menuju wilayah tengah Gaza. Tinggal bersama bibi selama tujuh bulan. Tidur di lantai, berbagi ruang dengan keluarga-keluarga pengungsi lain. Tanpa penghasilan. Tanpa kepastian.



Agustus 2024, mereka kembali mengungsi. Kali ini ke selatan, ke Khan Younis. Tinggal di tenda milik keluarga dari pihak ibu. Ruang sempit itu nyaris tak cukup untuk meluruskan kaki.



Makanan tak selalu ada. Mereka bergantung pada dapur umum, jika tersedia. Dalia mendaftarkan namanya ke berbagai lembaga kemanusiaan, berharap ada bantuan yang bisa sedikit meringankan beban.



Setiap kali pindah, ada yang tertinggal: kenangan, buku-buku kuliah, potongan hidup yang dulu terasa normal.



Harapan yang Dipertahankan



November 2024, sebuah kabar datang. Dalia dan adik-adiknya terdaftar di kamp pengungsian anak yatim di Al-Mawasi, Khan Younis yang dikenal sebagai “Kamp Harapan Prancis”. Mereka mendapatkan tenda sendiri, makanan, dan air.



Bagi sebagian orang, itu mungkin hal kecil. Bagi Dalia, itu berarti sedikit ruang untuk bernapas.



Di tengah duka yang belum reda, ia mengambil keputusan penting: kembali kuliah.



Ia tahu, jalan itu tak mudah. Ia kuliah sambil memikirkan adik-adiknya. Ia belajar sambil menahan rindu yang tak mungkin terbalas. Namun dalam benaknya hanya satu keyakinan: pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar.



Kelulusannya nanti bukan hanya tentang gelar. Itu tentang masa depan tiga anak yang kini bergantung padanya.



Mimpi yang Sederhana



Dalia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin rumah yang layak. Tempat di mana ia bisa mengumpulkan adik-adiknya tanpa takut suara ledakan. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya, bekerja sebagai apoteker, dan memastikan adik-adiknya tetap sekolah.



Ia ingin melanjutkan mimpi ayah dan ibunya.



Di Gaza, banyak cerita kehilangan. Tetapi kisah Dalia adalah tentang sesuatu yang lebih sunyi: tentang seorang anak perempuan yang berdiri ketika semua penopang hidupnya runtuh.



Tentang bagaimana kesabaran bisa menjadi rumah terakhir ketika rumah yang sebenarnya sudah tak ada lagi.